Nabi Ibrahim a.s. (Arab dan Jawi: إبراهيم عليه السلام) merupakan nabi dan rasul yang sangat penting dalam agama Islam, dan juga agama lain seperti Kristian dan Yahudi. Baginda telah diberi gelaran Khalil Ullah iaitu "Sahabat Allah". Selain itu beliau bersama anaknya Nabi Ismail a.s. terkenal sebagai pengasas Kaabah. Baginda juga merupakan salah seorang daripada lima orang nabi Ulul Azmi.
Nabi Ibrahim adalah putera Azar (atau Terah bin Nahor bin Serug bin Rehu bin Falikh bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.). Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam Empayar Neo-Babylon yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja zalim bernama "Namrud bin Kan'aan."
Sebelum itu keadaan tempat kelahirannya berada dalam kucar-kacir. Ini
adalah kerana Raja Namrud mendapat petanda bahawa seorang bayi akan
dilahirkan disana dan bayi ini akan membesar dan merampas takhtanya.
Antara sifat insan yang akan menentangnya ini ialah dia akan membawa
agama yang mempercayai satu tuhan dan akan menjadi pemusnah batu
berhala. Insan ini juga akan menjadi penyebab Raja Namrud mati dengan
cara yang dahsyat. Oleh itu Raja Namrud telah mengarahkan semua bayi
yang dilahirkan di tempat ini dibunuh, manakala golongan lelaki dan
wanita pula telah dipisahkan selama setahun.
Walaupun begitu dalam keadaan cemas ini, kehendak Allah
tetap terjadi. Isteri Aazar telah mengandung namun tidak menunjukkan
tanda-tanda kehamilan. Pada suatu hari dia terasa seperti telah tiba
waktunya untuk melahirkan anak dan sedar sekiranya diketahui Raja Namrud
yang zalim pasti dia serta anaknya akan dibunuh. Dalam ketakutan, ibu
nabi Ibrahim telah bersembunyi dan melahirkan anaknya di dalam sebuah
gua yang berhampiran. Selepas itu, dia memasuki batu-batu kecil dalam
mulut bayinya itu dan meninggalkannya keseorangan. Seminggu kemudian,
dia bersama suaminya telah pulang ke gua tersebut dan terkejut melihat
nabi Ibrahim a.s masih hidup. Selama seminggu, bayi itu menghisap celah
jarinya yang mengandungi susu dan makanan lain yang berkhasiat. Semasa
berusia 15 bulan tubuh Nabi Ibrahim telah membesar dengan cepatnya
seperti kanak-kanak berusia dua tahun. Maka kedua ibubapanya berani
membawanya pulang kerumah mereka.
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota
menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang
telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk
menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan
patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:"Siapakah
yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?"
Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme iaitu menyembah lebih dari satu Tuhan. Dewa Bulan atau Sin
merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan
matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi
merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil lagi nabi Ibrahim
a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia
cuba mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.
Dalam al-Quran
Surah al-Anaam (ayat 76-78) menceritakan tentang pencariannya dengan
kebenaran. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang
(bersinar-sinar), lalu ia berkata: "Inikah Tuhanku?" Kemudian apabila
bintang itu terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak suka kepada yang
terbenam hilang". Kemudian apabila dilihatnya bulan
terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka
setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: "Demi sesungguhnya, jika aku
tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum
yang sesat". Kemudian apabila dia melihat matahari
sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia: "Inikah Tuhanku?
Ini lebih besar". Setelah matahari terbenam, dia berkata pula: "Wahai
kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu
sekutukan (Allah dengannya)". Inilah daya logik yang dianugerah kepada
beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya
serta menerima tuhan yang sebenarnya.
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik
dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin
lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya
serta membersihkannya dari keraguan yang mungkin sekali mengganggu
fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah menjawab seruannya dengan berfirman: Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku?." Nabi Ibrahim menjawab:"Betul,
wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada
kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku
sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan
agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada
kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung
lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung
itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian
tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan
di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan
satu dari yang lain. Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh
Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang
sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh
burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor
burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu
mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah
empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata
kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan
kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari
sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang
diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan
menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya,
bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau
di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun"
yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikehendaki
"Fayakun".
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang
dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan daripadanya
orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim
merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah
kepada orang lain ialah menyedarkan ayah
kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan
persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat
dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya
memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu
dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang
anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang
kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul
dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak
dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut
gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti
lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak
berguna sedikit pun tidak mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau
mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa
penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan
yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi
lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat
dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah
kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan
memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan
segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa
dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan
menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan
kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama
yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi
dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun
seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. Ia berkata kepada Nabi
Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari
kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau
berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah
engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku. Jika engkau tidak
menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan
usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah
engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu
rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku
menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata
kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya
berkata: "Wahai ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap
memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan
persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang
yang celaka dan malang dengan doaku untukmu." Lalu keluarlah Nabi
Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih karena gagal
mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang
tersesat itu sangat menusuk hatinya kerana ia sebagai putera yang baik
ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat
dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahawa hidayah itu
adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya
agar ayahnya mendapat hidayah, bila belum dikehendaki oleh Allah maka
sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya
dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi
ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus
memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih
persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang
bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak
kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anuti
dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahawa apabila mereka sudah tidak
berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang
dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan
kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka
kemukakan iaitu bahawa mereka hanya meneruskan apa yang bapa-bapa dan
nenek moyang mereka lakukan sejak turun-temurun dan sesekali mereka
tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.
Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi untuk
berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang keras kepala dan yang
tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan
oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahawa mereka
tidak akan menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka,
walaupun telah Nabi Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahawa mereka
dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan
iblis. Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya
dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala
mereka sendiri bahawa berhala-berhala dan patung-patung mereka
betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat
menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahawa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat.
Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka,
berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka
bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka
kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar
meninggalkan rumah dan turut beramai-ramai menghormati hari-hari suci
itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak, namun ia berlagak berpura-pura
sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa
khuatir bahawa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular
dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.
"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan.", kata hati Nabi
Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap
tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara
daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa
sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang
sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan
patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil
menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap
kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:"Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disajikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu."
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya
berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang
besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya
dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari
berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan
mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak
di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan
takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mereka ini?" Berkata salah seorang diantara mereka:"Ada
kemungkinan bahawa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek
persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan
yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan
dialah yang pasti berbuat, kerana ia adalah satu-satunya orang yang
tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci
dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdapat kepastian
yang tidak diragukan lagi bahawa Ibrahimlah yang merosakkan dan
memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan
kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dapat
diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah,
jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si
pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana
seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar
pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat
dapat turut menyaksikannya. Kerana dengan cara demikian beliau dapat
secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil
dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang
ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan
terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok
berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang
pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap Raja Namrud
yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan
kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala
terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud:"Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merosakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:"Patung
besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya.
Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang
menghancurkannya." Raja Namrudpun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahawa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?"
Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai
jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan
kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian,
semata-mata hanya kerana adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata
Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud itu:"Jika demikian halnya, mengapa
kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat
melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau
menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran
dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan
persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang
sihat bahawa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya
difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang
menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu
di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu
dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya itu, Raja Namrud
mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup
sebagai hukuman atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan
mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan
pengadilan itu:"Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Keputusan mahkamah
telah dijatuhkan. Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar
hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan.
Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh
rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan
dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap
penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu
bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan
persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu
bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara
terdapat para wanita yang hamil
dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan
harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit
mereka atau melindungi yang hamil di kala bersalin. Setelah terkumpul
kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan
tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang
datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim.
Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang
sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap
yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan
terbelenggu, Nabi Ibrahim diangkat ke atas sebuah gedung yang tinggi
lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan
iringan firman Allah:
| “ | "Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim." | ” |
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke
dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan
sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan korban keganasan orang-orang kafir
musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada
dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan
seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat
tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang
terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api,
hal mana merupakan suatu mukjizat
yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar
dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada
hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula mempersoalkan
kepercayaan kepada Raja Namrud. Malah anak perempuan Raja Namrud sendiri
iaitu Puteri Razia mula mempercayai agama yang dibawa oleh beliau. Lalu
Puteri itupun mengaku di hadapan khalayak ramai bahawa tuhan nabi
Ibrahim a.s. adalah tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan
beliau yang mengarahkan tenteranya untuk membunuh puterinya itu. Puteri
itupun meluru ke arah api
yang besar itu lalu berkata "Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah aku".
Puteri Razia pun turut terselamat daripada terbakar dan dalam api yang
membara itu kedengaran dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan derhaka
puterinya menjadikan Raja Namrud semakin murka. Sebaik sahaja puteri
Razia keluar daripada api tersebut beliau serta tenteranya telah
mengejarnya kedalam hutan. Ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim serta
adik tirinya Sarah, bapanya Azaar serta anak saudaranya Nabi Luth a.s.
untuk melarikan diri. Raja Namrud dan tenteranya puas mencari Puteri
Razia tetapi puteri itu telah hilang. Selepas sekian lama, merekapun
pulang dan mendapati bahawa Nabi Ibrahim turut terlepas. Setelah
peristiwa ini, Raja Namrud kian gelisah kerana rakyatnya mula hilang
kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh itu, beliau berazam pula untuk
membunuh Tuhan nabi Ibrahim.
Mukjizat
yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti
nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam
kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung
mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan
kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada
mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir
akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas
dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang
akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi
Ibrahim.
Sebelum kedatangan Islam dengan membawa Al-Quran, kaum Yahudi dan
Kristian sering bertelingkar mengenai status agama Nabi Ibrahim a.s.
yang sebenarnya. Namun begitu turunnya ayat Allah untuk menerangkan
perihal agama Nabi Ibrahim serta pegangan aqidah tauhidnya:
Firman Allah SWT yang bermaksud:
| “ | "Wahai Ahli Kitab! (Yahudi dan Kristian) Mengapa kamu berani mempertengkarkan tentang (agama) Nabi Ibrahim, padahal Taurat (Torah) dan Injil (Bible) tidak diturunkan melainkan kemudian (lewat) daripada (zaman) Ibrahim; patutkah (kamu berdegil sehingga) kamu tidak mahu menggunakan akal?"[2] | ” |
| “ | "Ingatlah! Kamu ini orang-orang (bodoh), kamu telah memajukan bantahan tentang perkara yang kamu ada pengetahuan mengenainya (yang diterangkan perihalnya dalam Kitab Taurat), maka mengapa kamu membuat bantahan tentang perkara yang tidak ada pada kamu sedikit pengetahuan pun bersabit dengannya? Dan (ingatlah), Allah mengetahui (hakikat yang sebenarnya) sedang kamu tidak mengetahuinya."[3] | ” |
| “ | "Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi dan bukanlah ia seorang pemeluk agama Kristian tetapi ia seorang yang tetap di atas dasar tauhid sebagai seorang Muslim (Hanif) (yang mendengar dan berserah sepenuhnya kepada Allah) dan ia pula bukanlah dari orang-orang musyrik (golongan yang menyekutukan Allah)."[4] | ” |
| “ | "Sesungguhnya orang-orang yang hampir sekali kepada Nabi Ibrahim (dan berhak mewarisi agamanya) ialah orang-orang yang mengikutinya dan juga Nabi (Muhammad) ini serta orang-orang yang beriman (umatnya - umat Islam). Dan (ingatlah), Allah ialah Pelindung dan Penolong sekalian orang yang beriman."[5] | ” |
- Surah Ali-Imran (ayat 65-68) Al-Quran.
No comments:
Post a Comment